If I should stay,
I would only be in your way.
So I’ll go, but I know
I’ll think of you ev’ry step of the way.
And I will always love you.
I will always love you.
You, my darling you. Hmm.
Bittersweet memories
that is all I’m taking with me.
So, goodbye. Please, don’t cry.
We both know I’m not what you, you need.
And I will always love you.
I will always love you.
(Instrumental solo)
I hope life treats you kind
And I hope you have all you’ve dreamed of.
And I wish to you, joy and happiness.
But above all this, I wish you love.
And I will always love you.
I will always love you.
I will always love you.
I will always love you.
I will always love you.
I, I will always love you.
You, darling, I love you.
Ooh, I’ll always, I’ll always love you.
It might not be the right time
I might not be the right one
But there’s something about us I want to say
Cause there’s something between us anyway
I might not be the right one
It might not be the right time
But there’s something about us I’ve got to do
Some kind of secret I will share with you
I need you more than anything in my life
I want you more than anything in my life
I’ll miss you more than anyone in my life
I love you more than anyone in my life
pelajaran yang aku dapat dari calon kaka ipar ku baru saja adalah mengenai wadah kasih sayang
setiap orang mempunyai semacam wadah untuk menerima kasih sayang, besar kecilnya wadah itu ditentukan dari jumlah kasih sayang yang diterimanya sejak kecil,
sebagai contoh ada seorang anak, kita sebut saja si x, dia diberikan kasih sayang ang bayak oleh orang tuanya, dengan harapan ketika dia dewasa, dia akan menjadi orang yang sukses. mungkin dia pada akirnya menjadi orang yang sukses, namun ketika kasih sayang yang diberikan oleh orang tuanya sudah tidak diterimanya lagi, dan dia mulai menerima kasih sayang dari orang lain, wadah itu tidak pernah tercukupi, untuk mudahnya begini, bagi seseorang yang tidak pernah/jarang makan coklat, sebutir coklat pemberian seseorang akan membuat dia senang, namun bagi orang yang sering makan coklat itu tidak berpengaruh apa-apa.
jadi seperti itu lah wadah setiap orang, berbeda ukuran.
setelah mendapat pelajaran itu, ada sebuah hal yang menjadi pemikiran ku. menurut ku, yang menjadi tolak ukur wadah itu bukan jumlah kasih sayang saja.
menurutku jenis kasih sayangnya juga berpengaruh, misalnya si anak yang tadi sering makan coklat namun jarang diberi kue mungkin akan merasa sangat senang dengan pemberian sepotong kue kecil yang mungkin tidak ada apa-apanya (disini kita contohkan harga, namun bisa diganti menjadi apa saja contohnya usaha) dengan sebuah coklat.
memungkin kan bagiku untuk berpikir, tindakan sederhana seseorang jika itu tidak pernah diterima oleh seseorang akan menjadi spesial dan memenuhi wadah kasih sayang itu.
1. kenapa lo ninggalin gw? kalo lo bilang gw ga nyaman bukan kah gw yang seharusnya minta untuk udahan?
2. buat apa lo ngasi gw buku? apa lo merasa bersalah ? atau lo mau minta ijin?
3. setelah 1 tahun ga ketemu, dan lo datang dengan perasaan biasa2 aja???
4. kenapa lo mesti nyakitin gw?
kemaren nonton, pas ketemu sih ga ada deg2an atau apa, cuman pas udah berjalan, mulailah kebiasaan2 lama dia mengakibatkan terkuak nya memori,
dari hal2 kecil kaya ‘cinere bukan depok’ atau cara duduknya, kaki yang geter2, ngasi tau hati2, jalan pelesiran, dan lain2..
sampai2 hal yang ingin ditanyakan seperti: kenapa ngasihin buku sih? atau kenapa fb di tolak? atau kenapa kalo gw yang sms atau telp ga mau dibales atau diangkat pun terlupakan..
terlena kata tika? iya mungkin, jalan2 kemarin serasa dejavu..
1. photo box together
2. go to the boromeus once again
3. go to your room
4. you come to my room
5. go to sukaluyu together
“everyone got what they want, but i got what i need..”